Saya sedang memeriksa anak tahun ketika kemudian terdengar, "Siapkan EKG!" ucap mas Hendra saat membuka pintu IGD, sambil tangannya menarik brankar. Mas Hendra perawat igd. Satu orang lagi membantunya dengan mendorong dari belakang. Dengan alasan triase saya hentikan pemeriksaan yang memang sudah saya selesaikan.
Saya dekati brankar itu. Saya masuk ke balik tirai. " kasus apa mas?" tanya saya. "DOA mas" jawab dia. DOA adalah istilah yang biasa digunakan untuk menyebut pasien sudah meninggal sebelum tiba di IGD. Saya langung cek nadinya, hasilnya 0. Respirasinya pun juga. Pupil midriasis maksimal. Sambil menunggu mas Hendra memasang ekg, saya periksa keadaan fisik pasiennya. Saya lakukan untuk mencari kepastian penyebab kematiannya. Hasilnya tidak ada tanda kekerasan.
Penasaran dengan penyebabnya, saya panggil keluarga yang mengantar. Saya tanyakan cerita detilnya. Apa ada riwayat sakit atau trauma. Saya terkejut mendengar cerita keluarga. Bukan isi riwayatnya, tapi cerita bahwa pasien sebenarnya telah dibawa ke puskesmas. Menurut petugas disana, pasien dan keluarga diminta langsung ke rs saja. Berangkat sendiri tanpa perlu pendampingan ambulance. Saya tanya keadaan pasiennya saat itu, menurut keluarga sama ketika diantar ke rs ini.
Jenazah dirawat mas Hendra dan kru perawat, sedangkan saya kembali ke pasien anak tadi.
Sambil menulis hasil pemeriksaan pasien anak tadi, saya masih kepikiran tentang cerita tadi. Kenapa tidak ditangani di puskesmas untuk pertolongan awal? Saya yakin puskesmas mampu, kalau tidak mampu pasti akan merujuknya dengan pendampingan ambulance. Kalau memang hanya untuk memastikan kematian kenapa tidak dilakukan di igd puskesmas saja. Bukankah igd puskesmas mampu untuk menentukan kematian pasien.
Begitulah realitas pelayanan di negeri ini. Selalu ada kemungkinan hal-hal ganjil dalam pelayanan. Saya ragu untuk menyalahkan pihak puskesmas, tapi juga tidak bisa menutupi bahwa ada sesuatu yang tidak tepat yang dilakukan mereka. Begitulah pelayanan, perlu standar prosedur yang perlu dibuat dan ditaati. Bukan untuk mempersulit. Tapi juga akhirnya menjaga kita untuk memberikan hal yang terbaik bagi penderita.
"Pasiennya yang mana mas?" tanya residen Anak membuyarkan pikiranku tentang kasus DOA tadi.....
#hari pertama jaga IGD, 19 Oktober 2013.
No comments:
Post a Comment